Temu Masyarakat Indonesia di Jepang Bersama Menteri Perdagangan

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menemui masyarakat Indonesia di Jepang

TOKYO, 28 November 2017 –  Dalam rangka kunjungan selama dua hari ke Jepang, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyempatkan diri menyapa masyarakat Indonesia yang diadakan Selasa malam di Balai Indonesia Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Diawali makan malam pukul 18:30 waktu setempat, ramah tamah dengan Menteri Enggartiasto dimulai satu jam kemudian. Ikut mendampingi Mendag, hadir jugaDubes Indonesia untuk Jepang, Arifin Tasrif; Utusan Khusus Presiden untuk Jepang, Rachmat Gobel; serta Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Arlinda.

Sebelum hadirin diberi waktu untuk mengajukan pertanyaan, terlebih dahulu Mendag memberikan kata sambutan serta kabar terkini dari Indonesia.Kunjungan Mendag kali ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama perdagangan dengan Jepang, serta meningkatkan potensi ekspor Indonesia ke Jepang. Maka agenda Mendag di Negeri Sakura ialah melakukan pertemuan dengan perusahaan ternama Jepang semisal Toyota dan Aeon. Kemudian ada juga acara forum bisnis yang diperantai oleh JETRO (Japan External Trade Organization). Pada forum itu ada sekitar 20 perusahaan Indonesia yang mencari peluang ekspor dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Mendag juga akan hadir pada forum bisnis itu sebagai pembicara.

 

Pertumbuhan Ekonomi

Melihat angka-angka pertumbuhan Indonesia, terjadi perbaikan yang berarti pada triwulan pertama tahun 2017. Terdapat peningkatan dari 4,9% (triwulan akhir 2016) menjadi 5,0%, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai angka 5,3% pada tahun 2018. Peningkatan itu sesuai dengan visi pemerintahan yang terus-menerus memperbaiki lingkungan penanaman modal asing, menjaga inflasi tetap rendah, dan menguatkan daya beli masyarakat. Pemerintah memang berupaya menahan laju inflasi agar daya beli masyarakat tidak menurun. Target pemerintah adalah menahan angka inflasi agar dapat berada di bawah 3,5%.

Bonus demografi Indonesia juga tidak boleh dilupakan. Di saat negara-negara seperti Jepang mendapat ancaman kekurangan penduduk yang produktif, Indonesia masih memiliki jumlah penduduk yang mumpuni untuk bersaing. Tentunya apabila tidak dibarengi dengan perbaikan, tidak akan tercapai tujuan untuk meningkatkan daya saing masyarakat.

Cara-cara yang saat ini digalakkan pemerintah antara lain pembangunan jalan dan BBM satu harga. Seperti yang diketahui, belum lama ini presiden Joko Widodo memberlakukan BBM satu harga dari ujung timur hingga ujung barat. Dikarenakan ketergantungan yang tinggi pada BBM, mahalnya harga BBM juga akan mempengaruhi hal-hal lain semisal harga barang, ongkos transportasi. Dengan BBM satu harga, diharapkan harga-harga kebutuhan masyarakat dapat ditekan agar lebih terjangkau. Sementara pembangunan jalan juga akan memudahkan masyarakat untuk berpindah dan mempercepat arus perubahan. Tidak hanya di pulau Jawa, jalan-jalan negara juga akan dikebut di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua.

 

Impor Bumbu

Hal menarik disampaikan Mendag mengenai tarif khusus bumbu Indonesia yang akan diimpor ke Jepang. Sebelumnya Dubes Arifin Tasrif memang pernah berdiskusi dengan Mendag mengenai hal ini, agar para pemilik restoran atau toko bisa memperoleh bumbu dengan harga lebih murah sehingga bisa dijual dengan harga terjangkau kepada masyarakat Indonesia di Jepang.

Skemanya memang belum dibicarakan lebih jelas. Namun, “mungkin kita akan minta Garuda Indonesia kalua bisa memberikan tarif khusus bagi bumbu Indonesia yang mau impor ke Jepang,” ujar Mendag. Tentunya apabila benar-benar terjadi, itu adalah kabar baik bagi seluruh masyarakat Indonesia di Jepang yang ingin melepas rasa kangen dengan harga yang lebih terjangkau.

 

Potensi Ekspor

Beberapa pertanyaan dari para hadirin sempat menyinggung tentang peluang Indonesia sebagai eksportir makanan halal di Jepang. Menurut Mendag, makanan halal adalah makanan sehat, dan makanan sehat sedang menjadi primadona di kalangan masyarakat saat ini. Oleh karena itu, peluang Indonesia menjadi eksportir makanan halal masih terbuka.

Bagi masyarakat muslim di Jepang tentunya paham sulitnya mencari makanan halal untuk dikonsumsi. Mendag berupaya untuk memperbanyak jumlah restoran bersertifikasi halal di Jepang dibantu oleh Dubes Arifin Tasrif. Mendag yakin bahwa restoran bersertifikasi halal akan ramai dikunjungi, tidak hanya oleh masyarakat muslim, tapi juga orang-orang yang mencari makanan yang nikmat namun juga aman bagi kesehatan dan bergizi.

Kopi Indonesia juga berpeluang menjadi primadona di Jepang. Saat ini memang tren konsumsi kopi sebagai gaya hidup sedang melanda banyak negara, tidak terkecuali Indonesia dan Jepang. Dengan menjamurnya café-café artisan, beragam teknik menyeduh kopi, bahkan hingga film “Filosofi Kopi” yang diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari, gelombang dari tren ini dapat disebut luar biasa besar. Kini kopi tidak lagi dipandang sebagai minuman orang tua, tetapi juga dipandang sebagai minuman anak muda. Di Jepang, kopi dapat dengan mudah didapat; dari kedai kopi ataupun dari mesin penjual otomatis. Bahkan konsumsi teh hijau, yang menjadi produk kenamaan terus menurun tergerus kopi. Mendag melihat ini sebagai peluang, dan berharap kopi Indonesia dapat menjadi sorotan bagi penikmat kopi di Jepang.**

 

Penulis: Theodorus Alvin

Editor: Kartika Restu Susilo

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: