Lima Mahasiswa Indonesia Ditangkap Aparat Kepolisian Mesir, Satu Masih Ditahan

KBRI Cairo pada 22 November 2017 telah menerima informasi secara informal dari Sdr. Dodi Firmansyah Damhuri mengenai penangkapan 5 (lima) mahasiswa Indonesia di Mesir atas nama Sdr. Dodi Firmansyah Damhuri, Sdr. Muhammad Jafar, Sdr. Muhammad Fitrah Nur Akbar, Sdr. Ardinal Khairi, dan Sdr. Hartopo Abdul Jabbar oleh razia aparat keamanan Mesir di kawasan Tabbah, Nasr City.

Sdr. Dodi Firmansyah Damhuri dan Sdr. Muhammad Jafar telah dibebaskan oleh aparat keamanan Mesir oleh karena masih memiliki izin tinggal yang masih valid, sementara 3 (tiga) WNI mahasiswa lainnya masih ditahan di Kantor Polisi Nasr City II oleh karena memerlukan pendalaman investigasi lebih lanjut dari National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir.

Presiden PPMI Mesir 2017, Pangeran Arsyad Ihsanulhaq dalam press release PPMI Mesir menyatakan bahwa tiga mahasiswa lainnya yang masih ditahan tersebut tidak dapat menunjukkan kelengkapan dokumen keimigrasian saat terjadi penangkapan karena sedang dalam proses pengurusan.

PPMI Mesir menyayangkan respon sangat lambat yang diberikan oleh KBRI Cairo dan pernyataan provokatif oknum pejabat KBRI Cairo yang dinilai memperkeruh suasana dengan menganjurkan kepada keluarga mahasiswa yang ditahan agar mahasiswa Indonesia di Mesir melakukan demonstrasi di depan Kantor Imigrasi, Kantor Polisi, dan Lembaga Azhar melalui pesan whatsapp.

“Padahal dalam hukum yang berlaku di Mesir saat ini, demonstrasi adalah hal yang ilegal dan akan dikenakan hukum pidana,” ujar Pangeran dalam press release tersebut.

Menanggapi hal tersebut, KBRI telah menyampaikan nota diplomatik ke Kemlu Mesir, Kantor Grand Syaikh Al Azhar dan National Security untuk meminta Pemerintah Mesir membebaskan ketiga WNI dimaksud. KBRI Cairo juga telah mengupayakan kondisi yang layak untuk mereka selama berada di dalam tahanan, yaitu dengan memberikan bantuan berupa makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Hingga 27 November 2017, KBRI Cairo tidak menerima notifikasi tertulis apapun mengenai penahanan ketiga mahasiswa tersebut dari instansi terkait, khususnya Kemlu Mesir, Grand Shekh Al Azhar, dan National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir. Untuk itu, KBRI telah melakukan koordinasi dengan National Security dan kembali menyampaikan permohonan untuk membebaskan ketiga WNI tersebut.

Dalam pertemuan dengan KBRI Cairo, dijelaskan bahwa sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh National Security, kedua mahasiswa atas nama Sdr. Ardinal Khairi dan Sdr. Hartopo Abdul Jabbar diputuskan untuk dideportasi dengan alasan “Keamanan Nasional” oleh Kementerian Dalam Negeri Mesir. Namun demikian, sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Mesir, National Security tidak akan menyampaikan notifikasi resmi mengenai keputusan deportasi tersebut kepada KBRI Cairo. Adapun keputusan terkait Sdr. Muhammad Fitrah Nur Akbar akan disampaikan pada kesempatan pertama. Selanjutnya, KBRI Cairo telah memfasilitasi pemulangan 2 (dua) orang WNI Mahasiswa tersebut pada 30 November 2017.

PPMI Mesir dalam press release memohon kepada pemerintah Indonesia agar segera dapat melakukan upaya pembebasan kepada satu mahasiswa Indonesia yang hingga saat ini masih ditahan.

Hingga 4 Desember 2017, KBRI Cairo belum menerima notifikasi maupun keputusan dari Pemerintah Mesir terkait 1 (satu) orang WNI Mahasiswa yang masih ditahan oleh Aparat Keamanan di Kantor Polisi Nasr City II atas nama Sdr. Muhammad Fitrah Nur Akbar.

Sehubungan dengan itu, KBRI Cairo kembali menyampaikan nota diplomatik kepada Kemlu Mesir, Grand Shekh Al Azhar dan National Security, Kementerian Dalam Negeri Mesir untuk kiranya dapat membebaskan 1 (satu) WNI tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama karena yang bersangkutan masih berstatus sebagai mahasiswa Al Azhar dan memiliki izin tinggal yang valid hingga tahun 2018.

Sejak ditetapkannya state of emergency di Mesir pada April 2017 dan selanjutnya diperpanjang mulai 13 Oktober 2017 hingga Desember 2017, aparat keamanan Mesir (c.q. National Security) telah secara terus-menerus melakukan razia terhadap warga negara asing dalam rangka penertiban keamanan di Mesir.

Hingga 4 Desember 2017, KBRI Cairo telah memfasilitasi deportasi 18 (delapan belas) siswa / mahasiswa. Adapun jumlah WNI di Mesir per Oktober 2017 adalah sejumlah 7.594. Dari jumlah tersebut, 4.975 adalah mahasiswa.

Mempertimbangkan besarnya jumlah mahasiswa di Mesir yang potensial sebagai sasaran razia aparat keamanan Mesir, KBRI Cairo telah mengkomunikasikan saran tindak lanjut terhadap kasus ini kepada instansi terkait di Indonesia, termasuk mempertimbangkan untuk menghentikan pengiriman mahasiswa ke Mesir selama situasi dan prosedur keamanan di Mesir belum kondusif.

Penulis: PPMI Mesir

Editor: Altifani Rizky Hayyu

 

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: