KAJIAN STRATEGIS PPI TIMUR-TENGAH dan Afrika dengan PPMI ARAB SAUDI

Jerussalem memiliki posisi penting bagi Kaum Muslim. Di kota inilah situs suci ketiga Umat Islam, Masjidil Aqsha, berada. Tak seperti Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi yang dapat dikunjungi sewaktu-waktu, berziarah ke Masjidil Aqsha boleh dikatakan sulit kalau tidak disebut sebagai hal yang mustahil. Sejak aneksasi Israel di tahun 1948, yang berlanjut pada tahun 1967, hingga saat kini praktis Masjidil Aqsha di bawah kontrol jajahan pemerintahan zionis Israel.

Zionis Israel terus berupaya menjadikan Jerussalem sebagai ibukota negaranya. Walaupun begitu, tidak ada satupun negara yang mengakui bagian manapun dari Jerussalem sebagai ibukota Israel. Jalan itu sedikit terbuka di awal tahun 2017 ketika Rusia berkomitmen untuk mengakui Jerussalem Barat sebagai ibukota Israel. Meskipun demikian, hingga saat ini semua kedutaan besar tetap berada di Tel Aviv. Hingga akhirnya di awal bulan Desember, presiden AS, Donald Trump secara resmi mengakui Jerussalem sebagai ibukota Israel dan berencana memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv.

Kebijakan politik Trump disambut gembira oleh pemerintah Zionis Israel. Benyamin Netanyahu, sang perdana menteri, bahkan terang-terangan menyatakan bahwa Jerussalem merupakan ibukota untuk bangsa Yahudi, bukan untuk bangsa lainnya. Pernyataan yang semakin menegaskan bentuk diskriminasi Zionis Israel terhadap etnis lain di wilayah jajahannya. Departemen Kajian Strategis PPI Timur Tengah dan Afrika bekerja sama dengan PPMI Arab Saudi mencoba merangkum sebagian kebijakan dikriminatif Zionis Israel di Jerussalem dalam infografik ini.

Share on LinkedInShare on FacebookEmail this to someoneTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on Pinterest

editor_fajar

(qG8VIYso5kL1OY!M1e8YVb4

You May Also Like

Leave a Reply

%d bloggers like this: